Pergolakan Islam di Minangkabau: Perlawanan Kaum Padri (1818-1825)
DOI:
https://doi.org/10.15642/qurthuba.2024.8.1.64-84Keywords:
KekKekerasan, Padri, VandalismeAbstract
Perluasan wilayah yang dilakukan Belanda di dataran tinggi Minangkabau menimbulkan respon dari berbagai golongan masyarakat. Kaum Padri yang merasa terancam kemudian membuat perlawanan terhadap kolonial Belanda. Dari persoalan tersebut terdapat tiga rumusan masalah, yaitu bagaimana sejarah munculnya Gerakan Padri? Bagaimana kondisi masyarakat dataran tinggi Minangkabau tahun 1803-1818? Bagaimana bentuk perlawanan kaum Padri terhadap kolonial Belanda 1818-1825? Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologis untuk menemukan faktor-faktor munculnya Gerakan Padri dan adanya perlawanan terhadap Belanda. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) Munculnya Gerakan Padri dilatarbelakangi oleh kemajuan ekonomi yang membawa masyarakatnya berhaji ke Makkah dan pulang dengan membawa pembaharuan-pembaharuan untuk kemudian disebarkan di wilayahnya. 2) Kondisi masyarakat Minangkabau dalam kehidupan beragama mengalami perubahan yang ekstrem. Penyebaran paham Padri dilakukan dengan strategi kekerasan dan vandalisme yang mempengaruhi kondisi social-politik. 3) Kaum Padri mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang ingin mengekspansi dataran tinggi Minangkabau dengan strategi pertahanan benteng dan melakukan vandalisme terhadap kampung-kampung.
Downloads
References
Azra, A. (2007). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Prenada Media.
Burke, P. (2015). Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.
Dobbin, C. (2008). Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847. Depok: Komunitas Bambu.
Fathurrahman, O. (2008). Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Jakarta: Prenada Media.
Graves, E. E. (2007). Asal-Usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hadler, J. (2010). Sengketa Tiada Putus: Matriakat, Reformisme agama, dan Kolonialisme di Minangkabau. Jakarta: Freedom Institute.
Kielstra, E. (1886). Sumatra's Westkust van 1819-1849. Amsterdam: Nijhoff.
M.D Mansoer, d. (1970). Sedjarah Minangkabau . Jakarta: Bharata.
Marsden, W. (1784). The History of Sumatra: Second Edition. London: W. Marsden.
Nizar, S. (2013). Sejarah Sosial dan Dinamika Intelektual Pendidikan Islam di Nusantara . Jakarta: Kencana.
Radjab, M. (2019). Perang Padri di Sumatra Barat (1803-1838). Jakarta: Balai Pustaka.
Raffles, L. S. (1835). Memoir of The Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles Vol. 1. London: James Ducan.
Ricklefs, M. C. (2007). Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Sefriyono. (2018). Kearifan Lokal Bagi Pencegahan Radikalisme di Luhak dan Rantau Minangkabau. Jakarta: Sakata Cendikia.
Stuers, H. R. (1849). De Vestiging en Uitbreiding der Nederlanders ter Weskust van Sumatra . Amsterdam: P.N. van Kampen.
Susan, N. (2019). Sosiologi Konflik: Teori-Teori dan Analisis. Jakarta: Kencana.
Bukhari. (April 2009). Akulturasi Adat dan Agama Islam di Minangkabau: Tinjauan Antropologi Dakwah. Jurnal Al-Munir, Vol. 1 No. 1.
Putri, S. M. (Oktober 2018). Usaha Gambir di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 1833-1930. Jurnal Lembaran Sejarah, Vol. 10, No. 2.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Falasifa Ayu, Muhammad Khodafi, I'in Nur Zulaili

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.












